Jumat, 04 Februari 2011

Awal Penciptaan Jin

Kita manusia bertanya-tanya, sebenarnya lebih dahulu mana antara makhluk jin dan manusia itu diciptakan? Untuk memperoleh keterangan dari pertanyaan tersebut, mari kita simak berbagai informasi sebagai berikut.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr: 27).

Abu Hidzaifah Ishaq bin Basyar mengatakan dalam kitab Al-Mabda’ bahwa Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata, “Jin diciptakan dua ribu tahun sebelum penciptaan Adam.”

Juwaibir memberikan kabar dari Adh-Dhahhak dari Ibn Abbas bahwa ia mengatakan, “Jin merupakan penghuni bumi, sementara malaikat adalah penghuni langit; merekalah yang meramaikan langit. Di setiap langit terdapat malaikat. Setiap penghuni langit selalu melakukan salat, bertasbih (menyucikan Tuhan), dan selalu berdoa. Penghuni langit yang lebih tinggi memiliki ibadah, doa salat, dan tasbih yang lebih banyak dibandingkan penghuni langit di bawahnya. Jadi, malaikat itu adalah penghuni langit, sementara jin adalah penghuni bumi.”

Ishaq juga mendapatkan berita dari Abu Ra’uf yang mendapatkannya dari Ikrimah yang mendapatkannya dari Ibnu Abbas, “Ketika Allah menciptakan bapaknya jin, Samum, yang dijadikannya dari nyala api, Ia berkata, ‘Hai jin, mintalah yang kamu inginkan!’ Jin menjawab, ‘Kami berharap agar kami dapat melihat manusia, tetapi kami tidak terlihat oleh mereka, agar kami menghilang di bawah tanah, dan kami tidak mati dalam keadaan tua renta, melainkan muda dulu’.” Artinya, bangsa jin bisa melihat tetapi tidak terlihat oleh manusia. Jika mati, mereka menghilang di dalam tanah, dan tidak mati sampai kembali muda.

Ishaq mengatakan, “Telah mengabarkan kepada saya Juwaibir dan Utsman dengan isnad mereka berdua bahwa Allah menciptakan jin dan memerintahkan mereka untuk menghuni bumi. Mereka menyembah Allah sampai batas waktu yang cukup lama, kemudian mereka mulai berbuat maksiat kepada Allah dan suka melakukan pertumpahan darah. Dalam lingkungan mereka dikenal seorang raja bernama Yusuf yang kemudian dibunuh oleh mereka. Lalu, Allah mengutus tentara dari malaikat yang berada di langit kedua. Dikatakan pula bahwa dalam kalangan jin terdapat iblis, berjumlah empat ribu makhluk jin, kemudian mereka turun dan membawa anak-anak jin dari bumi, mereka menjadi kuat dan mengikuti pemuka-pemukanya di pulau-pulau laut. Iblis dan tentara yang bersamanya tinggal di bumi. Karena mereka banyak, pekerjaan yang dilakukan menjadi mudah dan mereka pun senang tinggal di sana.”

As-Suyuthi di dalam Luqath al-Marjan fi al-Ahkam al-Jan menyebutkan bahwa Muqatil dan Juwaibir memberitahukan dari Adh-Dhahhak, dari Ibn Abbas, ia mengatakan, “Ketika Allah hendak menciptakan Adam, Ia berkata kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi ini.’ Kemudian, malaikat bertanya, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah’.” Ibn Abbas berkata, “Para malaikat tidak mengetahui sesuatu yang gaib. Mereka menganggap perbuatan anak Adam seperti perbuatan para jin. Sehingga, mereka mengatakan apakah Tuhan akan menjadikan makhluk yang suka merusak seperti bangsa jin membuat kerusakan dan suka menumpahkan darah, sebagaimana bangsa jin menumpahkan darah, seperti perbuatan yang mereka lakukan dengan membunuh nabi mereka yang bernama Yusuf.”

As-Suyuthi mengomentari riwayat-riwayat di atas bahwa sanad-sanadnya rusak. Abu Hudzaifah seorang yang suka berbuat kebohongan, Juwaibir diabaikan perkataannya, sedangkan Adh-Dhahhak tidak mendengarkan secara langsung dari Ibn Abbas.

Tetapi, Al-Hakim meriwayatkan di dalam kitab Al-Mustadrak dan menganggap sahih sebuah riwayat dari Ibn Abbas, yang ia mengatakan, “Allah berkata, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi ini.’ Mereka (para malaikat) bertanya, ‘Apakah Engkau akan menjadikan makhluk yang suka membuat kerusakan dan melakukan pertumpahan darah?’ Dua ribu tahun sebelum itu telah diciptakan jin; mereka membuat kerusakan dan melakukan pertumpahan darah. Lalu, Allah mengutus tentara dari kelompok malaikat. Para tentara itu memukul para jin, sehingga mereka terdampar di kepulauan laut. Karena itu, ketika Allah berkata kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ini,’ mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,’ sebagaimana yang telah diperbuat oleh para jin.”

Ibn Jarir, Ibn Abi Hatim, dan Abu asy-Syekh (dalam kitan Al-’Azhamah) meriwayatkan dari Abu al-’Aliyah, “Allah SWT menciptakan malaikat pada hari Rabu, menciptakan jin pada hari Kamis, dan menciptakan Adam pada hari Jumat. Kemudian, satu kaum dari jin ingkar dan kafir, sehingga malaikat turun ke bumi lalu memerangi mereka. Jadi, pertumpahan darah dan kerusakan berlangsung. Karena itu malaikat berkata, ‘Mengapa Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah’.”

Dalam kitab Al-’Azhamah, Abu asy-Syekh berkata, “Saya mendapatkan berita dari Ahmad bin Muhammad al-Mashahafi, dari al-Bara, dari Abdul Mun’im bin Idris, dari bapaknya, ia berkata, ‘Wahab menyebutkan dari Ibn Abbas, ia mengatakan, ‘Allah menciptakan surga sebelum neraka, menciptakan rahmatnya sebelum kemarahan-Nya, menciptakan langit sebelum bumi, menciptakan matahari dan bulan sebelum bintang-bintang, menciptakan siang sebelum malam, menciptakan laut sebelum daratan, menciptakan daratan dan bumi sebelum gunung-gunung, menciptakan malaikat sebelum para jin, menciptakan jin sebelum manusia, dan menciptakan jenis laki-laki sebelum jenis perempuan’.”

Sumber: Luqath al-Marjan fi al-Ahkam al-Jan, Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Apa Itu Jin?

Pendapat Pakar Islam Rasionalis

Meskipun mayoritas umat mengakui adanya jin, pemahaman mereka tentang makhluk yang tersembunyi ini berbeda-beda. Bahkan, para pakar Islam pun terdapat beberapa pendapat tentang makhluk jin. Pakar-pakar Islam yang sangat rasional tidak mengingkari ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang jin, tetapi mereka memahaminya bukan dalam pengertian hakiki. Paling tidak ada tiga pendapat yang menonjol dari kalangan rasionalis Islam menyangkut makhluk jin.


1. Mereka memahami jin sebagai potensi negatif manusia. Menurut penganut paham ini, malaikat adalah potensi positif yang mengarahkan manusia ke arah kebaikan. Pandangan ini menjadikan jin sepenuhnya sama dengan setan. Di sisi lain mereka menilainya tidak memiliki wujud tersendiri karena jin atau setan menurut paham ini merupakan potensi negatif yang berada di dalam diri manusia.

2. Mereka memahami antara lain sebagai virus dan kuman-kuman penyakit. Paham ini mengakui eksistensi jin tetapi menyatakannya sebagai kuman-kuman. Maka, mereka menilainya bukan makhluk berakal, apalagi makhluk mukalaf, yang dibebani tugas-tugas tertentu oleh Allah SWT.

3. Mereka yang memahami jin sebagai jenis dari makhluk manusia liar yang belum berperadaban. Pendapat ini dikemukakan kali pertama oleh salah seorang pemikir India kenamaan yang bernama Ahmad Khan (1817–1898 M), yang menulis buku tentang jin dalam pandangan Alquran. Menurutnya, ayat-ayat yang menunjukkan tentang jin tidak dapat dijadikan bukti tentang adanya makhluk yang bernama jin. Ahmad Khan juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa syair-syair jahiliah.

Bintu asy-Syathi, Aisyah Abdurrahman, pakar kontemporer Mesir dalam bidang bahasa dan Alquran, dalam bukunya Al-Qur’an wa Qadhaya al-Insan menulis antara lain lebih kurang sebagai berikut.

“Bukanlah satu keharusan membatasi pengertian jin pada hal-hal yang secara umum kita kenal pengertiannya sebagai hantu-hantu yang tidak nampak kepada kita kecuali dalam kegelapan yang manakutkan atau gambaran waham dan ilusi. Tetapi kata jin sesuai dengan pengertian kebahasaan yakni ketertutupan dan sesuai juga dengan kebiasaan Alquran memperhadapkan penyebutannya dengan ‘ins’ (manusia) dapat mencakup semua jenis makhluk selain manusia yang hidup di alam-alam yang tidak terlihat atau terjangkau dan yang berada di luar batas alam tempat kita manusia hidup, serta yang tidak terikat dengan hukum-hukum alam yang mengatur kehidupan kita sebagai manusia.”

Atas dasar pandangan ini, Bintu asy-Syathi tidak menutup kemungkinan jin masuk dalam pengertian apa yang dinamakan UFO (Unidentified Flying Object). Dalam dunia iptek, UFO adalah objek yang terlihat di angkasa dan diduga sebagai awak angkasa yang datang dari luar planet bumi namun tidak dapat diidentifikasi.

Wawasan Alquran tentang Jin

Di dalam Alquran ditemukan paling tidak lima kata yang sering digunakan untuk menunjuk makhluk halus dari jenis jin, yaitu jin, jaan, jinnat, iblis, dan syaithan.

Para pakar berbeda pendapat tentang maksud kata jaan. Pakar bahasa Arab, Al-Jauhari (W 1005), menyatakan bahwa jaan sama dengan jin, hanya saja kata jin adalah bentuk jamak dari kata jinny yang berbentuk tunggal, sedangkan jaan adalah ism jame atau kata yang digunakan untuk menunjuk sekelompok, jinny. Dalam Alquran surah Ar-Rahman ayat 15 dinyatakan, “Dia (Allah) menciptakan jaan dari nyala api.”

Siapa yang dimaksud dengan jaan dalam ayat di atas? Ada yang berpendapat bahwa jaan adalah bapak jenis jin, sebagaimana Adam adalah bapak jenis manusia. Ada juga yang menyatakan bahwa jaan adalah iblis yang menggoda Adam dan bukan bapak jin.

Kata jinnat, baik yang dibubuhi alif dan lam atau tidak, ditemukan dua belas kali di dalam Alquran. Kesemuanya mengandung makna ketertutupan seperti gila (Al-A’raf: 184). Tetapi, tidak semuanya bermakna makhluk halus. Banyak ulama memahami kata jinnat dalam arti jin. Huruf “ta” yang menghiasi akhir kata itu adalah alamat ta’nist/tanda/bentuk feminisme untuk menunjukkan bahwa kata ini digunakan untuk menunjuk thaaifah (kelompok), sehingga kata jinnat berarti kelompok jin.

Perlu dicatat bahwa tidak semua jin adalah setan, karena jin ada yang taat kepada Allah SWT dan ada pula yang membangkang. “Sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (Al-Jin: 11).

Di sisi lain, tidak semua setan adalah jin, karena ada juga setan manusia. “Setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin sebagian dari mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112).

Kini, kalau Anda bertanya bagaimana wawasan Alquran tentang jin, dan apa yang harus dipercayai oleh seorang muslim tentang hal ini? Secara singkat dapat disimpulkan bahwa Alquran menjelaskan adanya makhluk ciptaan Allah yang bernama jin, tercipta dari api, sebagaimana diakui iblis dan dibenarkan oleh Alquran. “Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.” (Al-A’raf: 12). Perlu diingat informasi Alquran yang menyatakan, “Iblis (enggan sujud). Dia adalah dari golongan jin.” (Al-Kahfi: 50).

Makhluk ini mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan ciri manusia, antara lain bahwa dia dapat melihat manusia dan manusia tidak dapat melihatnya. Sesungguhnya ia danpengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al-A’raf: 27).

Makhluk ini dapat hidup di planet bumi. Alquran tidak menjelaskan di mana tetapi demikian itulah perintah Allah kepada-Nya ketika Yang Maha Kuasa itu mengusirnya bersama Adam dan surga. “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (Al-Baqarah: 36).

Mereka mempunyai kemampuan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan berat, seperti apa yang mereka lakukan untuk Nabi Sulaiman. “Dan, sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawwah kekuasaan Sulaiman) dengan izin Tuhannya.” (Saba’: 12). “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam serta periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku).” (Saba’: 13).

Mereka juga mempunyai kemampuan hidup berada di luar planet bumi berdasarkan ucapan mereka yang dibenarkan dan diabadikan Alquran. “Sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (Al-Jin: 8–9).

Tidak semua bangsa jin itu jahat atau membangkang perintah Allah. “Sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dandi antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” Demikian ucap jin yang direkam dalam Alquran surah Al-Jin ayat 13.

Mereka juga mempunyai kemampuan memahami bahasa manusia, terbukti dari kemampuan mereka mendengar dan memahami Alquran. “Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.” (Al-Jin: 1–2).

Sumber: Diadaptasi dari Yang Tersembunyi: Jin Iblis, Setan, & Malaikat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa kini, M. Quraish Shihab

Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia